Minggu, 20 November 2011

Mencoba Mendeskripsikan Mandau


Mencoba Mendeskripsikan Mandau

Oleh: Willhelmus Ruperno

Ternyata sulit bagi kita untuk mendeskripsi ‘Mandau’. Sama halnya seperti ‘Katana’ (pedang tradisional Jepang), mandau menjadi istilah umum untuk senjata tajam bangsa Dayak (Fridolin Ukur, 1972) dulunya. Bahkan Dr. A. Neuwenhuis seorang Botani Belanda sering menyebutkan kata ‘mandau’ dalam resumenya. Seiring waktu kemudian istilah mandau direduksi ke dalam berbagai pengklasifikasian dari masing-masing etnik (bangsa) Dayak. Sejak migrasi pertama kebudayaan Dongson masa Tersier -60 juta tahun yang lalu (H.TH. Fisher, 1991) dari jaman Neozoikum (Geologi), manusia mulai beranjak menuju kehidupan baru yakni berburu dan meramu (food & gathering). Walaupun ‘migrasi’ ini masih menjadi perdebatan, namun yang pasti ‘kebudayaan’ tidak berdiri dengan sendirinya, demikian juga item-item yang terkandung di dalamnya.

Diperkirakan ‘mandau’ dan senjata tradisional lainnya sudah dibuat sejak jaman logam dari masa ke-4 setelah Neolithikum (Charles Hose dan Willian McDougal, 1912). Oleh sebab itu banyak sumber mengatakan jika ‘mandau’ yang asli terbuat dari logam atau batu gunung (kemungkinan besi hitam). Sederhananya istilah mandau saat ini merujuk pada bentuk dan bahan yang digunakan, walaupun sekarang mandau dapat dibuat dari berbagai jenis logam seperti besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Dengan sendirinya kita dapat mengklasifikasikan ‘mandau’ menurut lingkup kultural masing-masing daerah, meskipun rancu bagi kita jika harus mengatakan mana yang asli dan tidak, karena memang tidak ada kriteria dalam hal itu. Asli atau tidak, tergantung dari asumsi umum di setiap daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar