Rabu, 04 Januari 2012

Kontribusi Positif PSBDK bagi Mahasiswa


Terselenggaranya Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan (PSBDK) berawal dari kerinduan mahasiswa Dayak di Yogyakarta akan tradisi dan budayanya yang jauh di kampung halaman. Dalam perjalanannya, kegiatan tersebut mendapat apresiasi yang sangat baik dari berbagai kalangan, baik pelajar dan mahasiswa (terutama kalangan mahasiswa Dayak) maupun para pemerhati budaya yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya untuk berpikir lebih jauh bagaimana cara mengembangkan “Gawai Dayak” ini sebagai promosi dan usaha melestarikan budaya Dayak baik pada tingkat Nasional maupun Internasional. Tidak hanya itu, PSBDK diharapkan mampu membangun semangat kekeluargaan dan kerjasama yang baik di kalangan mahasiswa Dayak sebagai wujud realitas kehidupan masyarakat Dayak di Betang Panjang.


PSBDK pertama kalinya diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 2002 oleh Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Kristiani Sintang (FKPMKS). Secara berturut-turut hingga tahun 2011 PSBDK diselenggarakan oleh Himpunan Pelajar Mahasiswa Dayak Kapuas Hulu (HPMDKH) tahun 2003, Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Kabupaten Sintang (FKPMKS) tahun 2004, Ikatan Keluarga Besar Kabupaten Sanggau Yogyakarta (IKBKSY) tahun 2005, Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Sekadau (IPMKS) tahun 2007, Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Melawi (FOKUS MAPAWI) tahun 2008, Ikatan Pelajar Mahasiswa Dayak Kutai Barat (IPMDKB) tahun 2009, Forum Mahasiswa Kabupaten Landak (FORMAKAL) tahun 2010 dan terakhir pada tahun 2011 oleh forum mahasiswa Ketapang Bujang Dare Kayong (Bedayong).

PSBDK X tahun 2012 akan digelar oleh Forum Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Bengkayang. Hingga lustrum kedua, PSBDK tanpa kita sadari telah banyak memberikan kontribusi positif bagi para mahasiswa Dayak di Yogyakarta dan sekitarnya. Kontribusi positif ini berupa pengalaman dan pembelajaran organisasi bagi para mahasiswa yang terlibat langsung dalam kepanitian maupun anggota forum peserta PSBDK. PSBDK dapat dikatakan media pembelajaran mahasiswa dalam berorganisasi diantaranya bagaimana cara bekerja dalam sebuah tim, belajar menjadi seorang konseptor, belajar menyusun anggaran, belajar memimpin dan mengurus orang banyak, belajar menjadi tuan rumah yang ramah dan tegas, belajar mencintai dan melestarikan budaya dan menghormati adat, belajar berkomunikasi/diplomasi dengan para pejabat serta pihak-pihak lain yang terlibat serta bagaimana membuat laporan pertanggung jawaban yang transparan dan akuntabel. Hasil belajar dalam PSBDK memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi masing-masing individu mahasiswa yang mungkin tidak didapatkan dalam bangku kuliah dan kelak akan menjadi modal utama ketika berhadapan langsung dengan masyarakat dan dunia kerja.


Dalam pelaksanaan PSBDK oleh mahasiswa Dayak tentunya sedikit banyak terdapat berbagai kekurangan, kelemahan serta hambatan. Kritikan atau saran dari berbagai pihak hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama agar kedepannya PSBDK menjadi lebih baik dan berkembang. Sangat disayangkan jika kegiatan bertajuk cinta dan peduli akan budaya Dayak tiba-tiba harus terhenti di tengah jalan. Kita berharap agar pemerintah daerah di Kalimantan tetap mendukung kegiatan PSBDK. Karena kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian para mahasiswa dan orang muda terhadap daerah serta upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) mahasiswa Dayak pada umumnya.

(Michael Yoga Anes, Ketua Lembaga Studi Dayak Yogyakarta, mahasiswa Dayak asal Singkawang, Kal-Bar)