Sabtu, 05 Maret 2011

MELANGKAH SEBAGAI PUTERI KALBAR _ Inspirasi Bagi Kaum Muda_

Menjadi bagian dari “pelaku” inspiratif kaum muda adalah harapan saya sejak dulu, ketika saya masih kanak – kanak. Entah mengapa pikiran tersebut selalu terbayang dalam benak saya. Melangkah sebagai teladan, sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan untuk bisa menginspirasi orang lain selalu mejadi keinginan yang berusaha saya wujudkan dalam setiap kesempatan. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk saya menyombongkan diri, melainkan saya ingin sekali kaum muda lainpun memimpikan hal yang sama dengan saya, untuk kemudian mewujudkannya.
Menjadi pribadi yang berkualitas, yang menjunjung tinggi penghargaan terhadap kemampuan diri dan mau menggali lebih dalam agar bisa berguna, baik itu untuk diri sendiri dan terlebih orang lain. Hal itu sebagai syarat yang menurut saya harus dilakukan, sebelum kita menjadi seorang inspirator.
Hal lain yang lebih membanggakan dan semakin membulatkan mimpi – mimpi saya adalah ketika saya terlahir sebagai seorang Putri Dayak asli, saya seorang gadis Dayak Ud Danum. Untuk hal ini, tidak seperti mimpi untuk menjadi seorang yang bisa menginspirasi orang, kali ini saya mengerti mengapa saya begitu bangga dan begitu termotivasi oleh darah Dayak yang mengalir dalam diri saya.
Dayak suku yang sering dipandang sebelah mata, setidaknya itu yang sering ada di dalam pikiran saya setiap saya mendengar atau mendapati fakta yang sering saya hadapi.
Sering ada pemikiran – pemikiran yang menilai Dayak rendah secara keseluruhan tanpa tahu pa yang sebenarnya terjadi. Mulai dari pendidikan yang minim, hidup di pulau yang belum terlalu mengenal modernisasi, tradisi yang masih primitif, dsb. Sedih sekali mendengarnya, karena saya mengetahui bahwa itu tak sepenuhnya benar, meski juga tak sepenuhnya salah. Dayak suku yang unik, dan keunikan itu menjadi suatu kekayaan.
Kebudayaan, kesenian, dan adat tradisi orang Dayak sungguh memiliki nilai yang tinggi. Selain itu, ada juga alasan – alasan lain yang sebenarnya bisa dikemukakan dan bisa dipertanggungjawabkan untuk menyikapi hal ini, tapi saya tak mengerti mengapa itu tak pernah
ada. Ataupun ada, tapi tetap tak mengubah paradigma orang lain terhadap Dayak.
Sebagai seorang gadis Dayak dan dipercaya sebagai Putri Indonesia Kalimantan Barat 2010, saya merasa ini anugerah yang tak terhingga. Ketika mimpi saya bisa menjadi nyata. Berbicara tentang hal ini, saya teringat gurauan – gurauan yang dulu saya dan teman – teman sering lakukan. Dulu, saya sering sekali berpura – pura berlenggak – lenggok sebagai seorang finalis Puteri Indonesia dan saya berkata kepada teman – teman saya bahwa percayalah, di tahun 2010 itu akan menjadi kenyataan. Semula perkataan itu murni hanya saya jadikan bahan gurauan, tanpa pernah bermaksud sekalipun untuk mewujudkannya.
Mengapa saya memilih tahun 2010? Sayapun tak mengerti, melintas begitu saja. Tapi ternyata keadaan berkata lain, tahun 2010, ketika saya sedang –dan sampai saat ini - mengecap pendidikan- di Yogyakarta, saya memutuskan untuk mengikuti seleksi Puteri Indonesia Kalimantan Barat tahun 2010 di Kota Pontianak, bertepatan dengan libur kuliah saya. Saya tahu, ini keputusan yang tidak gampang, mengingat akan banyak hal yang akan saya hadapi terlebih bila saya terpilih untuk mewakili Kalimanta Barat ke tingkat nasional, baik itu suka maupun duka.
Tapi itu tak menyurutkan niat saya. Saya tahu, ini salah satu jalan untuk saya mewujudkan mimpi saya. Menghargai kemampuan yang saya punya untuk kemudian menjadi seorang yang menginspirasi orang lain, khususnya dalam hal ini pemuda – pemudi Dayak.
Saya ingin semua orang tahu bahwa Dayak juga mempunyai generasi – generasi yang berkualitas. Yang tak bisa dipandang sebelah mata, bahwa orang Dayak juga bisa bersaing di tingkat nasional dan orang Dayak mengerti benar modernisasi. Tapi jangan salah dulu, bukannya saya hanya membela “kaum” saya, tapi saya ingin semua orang Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, terinspirasi akan hal ini. Pemuda – pemudi Kalimantan Barat, yang mencintai -dan harusnya memang mencintai- tanah kelahirannya, tempat di mana ia hidup, mau memberi hal yang berarti bagi provinsinya.
Melangkah sebagai Puteri Indonesia Kalimantan Barat, lantas tak mengubah cara pandang saya. Karena toh cara pandang ini yang membuat saya bisa optimis terpilih menjadi salah satu Puteri Kalimantan Barat dan kini hal itu telah saya raih. Cara pandang yang ditanamkan oleh kedua orang tua saya sejak saya masih kecil untuk selalu optimis, rendah hati dan tulus. Menjadi Puteri Kalimantan Barat adalah berarti saya lebih termotivasi untuk bisa menyumbang lebih dan lebih untuk provinsi yang begitu saya cintai, provinsi tempat saya lahir, tumbuh dan berkembang, untuk Dayak dan bisa menjadi inspirasi bagi orang lain dengan segala kerendahatian.
Dari semua itu, saya berharap, semua generasi muda Kalimantan Barat, mau untuk terus membangun Kalimantan Barat dengan segala hal yang positif.
Salam…

*Puteri Indonesia Kalimantan Barat 2010,
Benedikta Thia

Rabu, 09 Juni 2010

Rencana Pembentukan Kepengurusan Baru

Rapat 10 juni 2010, sekber JCO
Rapat kali ini dipimpin oleh ketua LSD Hubertus V. Wake. dengan bahasan utama mengenai rencana pergantian kepengurusan baru di LSD. Pembahasan ini menjadi penting karena kepengurusan saat ini sudah cukup lama dan biss dianggap expired.

LSD ada didasarkan atas sebuah keinginan untuk memunculkan sebuah karakter pengetahuan dan budaya yang mampu menampung intelektualitas muda Dayak se Kalimantan dalam bentuk yang lebih luas. LSD tidak sekedar memunculkan sisi kebudayaan, namun sisi-sisi lain yang berkaitan dengan inteltktual muda Dayak. Artinya bahwa LSD ada muncul karena ingin mengakomodir berbagai kegiatan yang terkait kebudayaan, kehidupan social, sumber daya, pengetahuan, berbagai disiplin ilmu, dan lain sebagainya. LSD merupakan sebuah organisasi mandiri dibidang pengetahuan intelektual muda Dayak.

Selama ini LSD telah berusaha menjalankan program-program walaupun belum maksimal seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan Lembaga ini baru berdiri dua tahun dan masih embrio untuk sebuah lembaga yang berharap menjadi besar.
Walaupun dalam perjalanannya LSD sempat mengalami kefakuman kegiatan, namun harapannya LSD tetap eksis.

Hasil akhir dari rapat kali ini telah dibentuk sebuah kepanitiaan kecil yang diketuai oleh Egi. Tugas utama dari kepanitiaan ini adalah untuk mempersiapkan pemilihan ketua baru LSD dimasa yang akan datang.

-Admin LSD-

Minggu, 28 Februari 2010

BUKU DAYAK MENGGUGAT



Dijual buku 

Dayak Menggugat,

sebuah buku yang mengupas:



Sejarah Masa Lalu, Perjuangan, Kearifan Lokal, Hak Atas Sumber-Sumber Penghidupan, Dan Diskriminasi Identitas.

............................................................................................................................

Hingga kini pun suku Dayak masih saja dianggap suka mengayau, tidak mau maju atau kolot, nomaden, keras kepala, dan temperamen. Padahal sejatinya Dayak itu sungguh sangat santun, religius, patuh, dan punya motivasi yang sangat kuat untuk maju atau berubah. Perlakuan tidak adil dari sekolompok penguasa itulah yang menjadikan suku Dayak harus berjuang sendiri untuk maju. Buku ini dapat menawarkan informasi kronologis yang sesungguhnya bagi pembaca. 
-Markus Mardius—Wartawan Senior, Profesional Motivator, Trainer dan Fasilitator, asal Pergung-Balai Berkuak-Ketapang, tinggal di Papua.

Sebuah buku yang mengupas tentang persoalan manusia Dayak. Tak hanya berkutat pada budaya semata, namun ada isu politik, sosial, lingkungan, dan sistem religi. Termasuk persoalan kekinian yang dihadapi manusia Dayak. Mulai dari pertambangan, illegal logging, hingga perkebunan monokultur yang menjadi ancaman kelestarian lingkungan dan budaya. 

Di tengah modernitas dan serbuan budaya global yang kadang melunturkan, semangat dan kearifan lokal, buku ini hadir memberikan jawaban. Tak kalah penting, ditulis orang muda Dayak berpendidikan yang masih peduli dengan persoalan kaumnya. 
-Stefanus Akim, Redaktur Tribun Pontianak-Kompas Gramedia.

Kiranya buku Dayak Menggugat dapat menjadi motivasi generasi muda Dayak untuk berpikir, berbuat, bertindak, berjuang membela hak-hak masyarakat adat yang tertindas. 

–Yohansen, Founder & Administrator www.ceritadayak.com dan pengurus aktif Indonesian Borneo Community .

Membaca buku ini membawa saya ke sebuah lorong pemikiran intelektual Dayak yang (mencoba) kritis dan tidak tinggal diam. Sangat direkomendasikan untuk anda baca. 

-Faustinus Handi, Munster City, Jerman.

Orang muda Dayak adalah agen perubahan yang harus memperjuangkan hak-hak masyarakat Dayak. Perjuangan lewat kreasi dan pemikiran dengan talenta yang dimiliki merupakan salah satu keberpihakan pada pembangunan manusia Dayak kedepan. Buku ini mengajak kita untuk peka dan sadar akan perkembangan jaman, sudah saatnya kita berbenah diri dan bertindak. 

-Hubertus Vincencius Wake, Ketua Lembaga Studi Dayak Yogyakarta.

Modernitas Kalimantan tergambar di buku ini, merengut jiwa dan raga manusia Dayak didalamnya. Sebagai entitas utama, Dayak tercerabut dari akar budayanya, bahkan masa depannya demi kelangsungan Indonesia. Inilah yang namanya “menghina akal sehat”. Dikisahkan buku ini, walau diterjang berbagai fenomena sejarah, manusia Dayak masih eksis, meski kadang naik-turun, maju-mundur. Mirip frekwensi radio ataupun foreign trading... ataupun bursa efek...

Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, patutlah diwaspadai, bahwa manusia Dayak yang dalam keadaan sekarat dan terjepit, tak mustahil akan memunculkan kembali sebuah gerakan maha dahsyat sebagai konsekwensi logis dari pengerucutan dua pilihan sulit, bergerak cepat untuk hidup atau bertarung hingga ajal menjemput!!! 

-Yohanes Supriyadi, Konsultan NGO, Jurnalis, Peneliti dan Project Manager Program Non Violence Education di Kalbar.

...............................................................................................................................

Info dan pemesanan buku
Hub: Tains Odop 
085 2266 88188

Harga 35.000 sebelum lunching.

(Beli 2 hanya 60.000)


*Harga naik setelah launching
..................

Terima kasih,
Salam Dayak Menggugat!



Jumat, 19 Juni 2009

Wind of Change


Angin Perubahan sebetulnya mulai bertiup kearah orang Dayak, salah satu indikator paling sahih adalah duduknya tokoh-tokoh Dayak sebagai Kepala Daerah di beberapa provinsi dan kabupaten daerah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Semarak peristiwa dan festival budaya Dayak dalam berbagai agenda pariwisata, revitalisasi lembaga adat dan semakin banyaknya kaum terpelajar Dayak yang menduduki posisi penting disuatu organisasi, lembaga, birokrasi atau partai politik menunjukkan adanya angin perubahan yang muai bertiup.

Ini merupakan berita baik yang perlu kita akui sebagai sebuah perubahan. Walaupun kadarnya masih kecil, setidaknya orang Dayak telah menapak dijalur yang benar, hanya saja mesti kita percepat dan kita perbaiki karena masih banyak pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan lebih cepat.

Angin perubahan itu perlu kita dorong agar lebih cepat, lebih akurat dan lebih besar. Pada waktunya perubahan mengenai identitas orang Dayak akan mengelinding seperti bola salju yang makin lama makin besar dan akan semakin besar lagi. Janganlah terkungkung dalam tempurung kecil yang hanya mampu melompat sebatas tempurung saja tanpa berani melompat lebih tinggi. Kita perlu berada ditempat yang cukup tinggi untuk melihat kebawah bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang mesti kita benahi agar perubahan menjadi bagian dari citarasa dan catatan sejarah identitas manusia Dayak.

Perubahan itu ada, masa transisi sedang berjalan pada jalurnya, simbol tradisi muncul dimana-mana sebagai ekspresi keberadaan suku Dayak. Simbol-simbol itu segera menjadi lambang-lambang perubahan dan kebesaran ditengah gencarnya pembangunan di Kalimantan. Rumah Betang baru berdiri di berbagai tempat strategis, festival budaya, motif-motif, hiasan dan ukiran khas Dayak yang digunakan sebagai ornamen pada bangunan, rumah dalam perkotaan, dan perkantoran pemerintah. Ditambah lagi eksodus ribuan pelajar dan mahasiswa untuk belajar ke berbagai perguruan tinggi di Jawa.

Beberapa poin itu barangkali cukup untuk memperlihatkan kecenderungan bahwa orang Dayak sedang berada pada jalur yang benar dalam usaha menyetarakan diri sebagai bagian dari bangsa “pembangunan” ini.

Pemerintah daerah dengan sadar menggalakkan sektor pariwisata sebagai pesona dan ladang penghasil devisa. Seperti terlihat diberbagai Kabupaten di Kalimantan, pemerintah kabupaten atau kota masing-masing membangun rumah adat berdirikhas Dayak (Betang atau Lamin atau Rumah Panjang). Ritual, upacara, kesenian dan simbol-simbol budaya Dayak direkonstruksi kembali dan dijadikan aset kebudayaan lokal yang tidak ternilai harganya. Dayak dan simbolnya seolah ada dimana-mana dan menjadi bagian identitas budaya Dayak masa kini. Ini jelas bertolak belakang dengan kenyataan masa silam dan harus diakui memang terjadi perkembangan yang positif bagi eksistensi keberadaan orang Dayak dan budayanya jika dibandingkan beberapa tahun silam, terutama saat Orde Baru berkuasa.


Tains Odop, Penulis Muda Dayak asal Kalbar, sementara berdomisili di Jogja.


IDENTITAS YANG TERPINGGIRKAN


“Mau makan direstoran,..Padang, bukan berarti harus ke Padang, semua ada disini kita tinggal menikmati. Mau makan buah pisang..Ambon, bukan berarti harus ke Ambon. Mau makan sayur Gudeg..Jogja, bukan berarti harus ke Jogja.” (cuplikan syair lagu Enno Lerian).
“Ada orang Batak, ada orang Jawa, ada orang Sunda, ada orang Ambon, ada orang Madura...Nggak disebut jangan marah.” (cuplikan syair lagu ProjetPop).

Jika kita hidup diabtara tahun 1990an-2000an, kita semua pasti pernah mendengar syair kedua lagu tersebut, apalagi dimasa sekarang dimana televisi, radio, VCD dan komputer sudah masuk kedalam keseharian kita, lagu-lagu tersebut terasa tidak asing dan amat mudah diingat. Penggalan syairnya sederhana, biasa dan mungkin hanya kebetulan saja. Tapi ada pesan yang bisa kita tangkap dari petikan syair itu bahwa dalam wawasan masyarakat umum, orang Kalimantan (terutama Dayak) tidak populer dalam ciri dan identifikasi yang layak diungkapkan, kecuali keprimitifannya, kanibalisme, penguasa hutan, pengayau dan udik. Demikian ungkap Iwan Djola di blognya www.iwandjola.blogspot.com

Entahlah apakah itu sebagai sebuah kebetulan atau tidak, lagi-lagi pikiran kita menerawang kedalam, bertanya dan merenung “ada apa denganmu, orang Dayak?”. Bahwa orang Dayak yang menguasai sebagian besar pulau Kalimantan (bahkan 40% populasi suku-suku di Kalbar) dianggap tidaklah penting -jika tidak mau dibilang tidak ada- menjadi sebuah persoalan identitas yang mesti kita perjuangkan keberadaannya.

Dalam khasanah perjuangan bangsa dan tatanan sejarah Nusantara, nama suku Dayak memang menjadi bagian penting NKRI dimana pada masa lalu juga merupakan pejuang tangguh dalam merebut kemerdekaan dari pihak penjajah. Orang Dayak tergabung dalam gerakan perlawanan, turut serta dalam ikrar kesatuan Nusantara (Jong Kalimantan) sehingga diperolehlah Nusantara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bahkan salah seorang tokoh Dayak sekaligus bapak pembangunan di Kalteng yang bernama Tjilik Riwut merupakan pahlawan nasional yang namanya tercatat sebagai pejuang kemerdekaan bagi NKRI.

Lagi… jika pernah melihat iklan Indomie yang dinyanyikan oleh salah seorang pemenang audisi televisi Indonesian Idol (Mike), suku Dayak tidak muncul disana. Entah apakah karena penjualan produk Indofood (mie instan) di Kalimantan tidak laku keras sehinggga foto maupun video orang berbusana Dayak tidak muncul disiklan tersebut ataukah memang orang Dayak tidak cukup menjual dari sisi marketing.

Yang pasti, jika kita melihat lebih dalam dari syair lagu dan iklan diatas tadi kita bertanya apa sebenarnya yang membuat orang Dayak tidak terekspos, tidak muncul kepermukaan dan hanya bermain didalam lingkarannya sendiri? Bagi saya ini merupakan representasi dari Identitas yang Terpinggirkan, sebuah identitas yang "malu-malu tapi mau".

Diakui atau tidak, identitas kita dikancah nasional masih terpinggirkan, masuk dalam golongan kelas dua (jika tidak mau dipandang sebagai kelas tiga) dalam tatanan kehidupan sosial, politik dan ekonomi bangsa. Pandangan negatif masa lalu masih membekas dan menjadi bagian dari identitas jati diri keberadaan orang Dayak sehingga bagi orang lain suku Dayak tidaklah penting. Berbagai kalangan memang melakukan perjuangan agar identitas dan jati diri orang Dayak dikenal, agar kebudayaannya tetap lestari, namun ternyata apa yang telah diperjuangkan selama ini tidaklah cukup. Kita mesti bekerja lebih keras lagi, berbuat lebih banyak lagi dan menjadikan orang Dayak sebagai motor perubahan agar identitas asli orang Dayak tidak terus-terusan terpinggirkan.

Pada buku pertama saya yang dirilis tahun 2006 lalu, saya menekankan perlunya orang Dayak melakukan perubahan, Change or Die – Berubah atau Mati, demi membuat identitas ini muncul dan dikenal oleh kalangan yang lebih luas, bukan hanya dikalangan internal orang kita melainkan dikalangan yang lebih besar yakni bangsa ini. Representasi agar ekspos mengenai Dayak muncul penting kita galakkan, identitas sebagai masyarakat yang berbudaya, jujur dan pejuang tangguh harus menjadi bagian tidak terpisahkan pada jati diri orang Dayak. Dengan demikian kita bisa mengeliminir sedikit demi sedikit pandangan negatif yang menyebutkan bahwa orang Dayak itu primitif, Kanibal, Udik dan Pengayau. Yang diganti dengan orang Dayak adalah orang yang berbudaya, jujur dan tulus, baik dan bersahabat, cerdas, rajin dan pejuang tangguh.


Tains Odop, Penulis Muda Dayak asal Kalbar, sementara berdomisili di Jogja.

Sabtu, 23 Mei 2009

SEJENAK MERENUNG BERSAMA DONGENG ANAK KOLEKSI TJILIK RIWUT

Orang Utan dan Burung Katuging


Di sebuah hutan belantara Kalimantan Tengah, seekor Orang Utan asyik melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lain. Tanpa disadari, akhirnya ia sampai pada sebuah ladang milik penduduk kampung sekitar tempat itu. Setelah mengamati sejenak, pelahan-lahan ia turun dari pohon dan ketika kakinya menginjak tanah, ia terkejut, karena dilihatnya seekor Burung Katuging1 hinggap dan termenung di bawah sebatang pohon. Burung Katuging itu hinggap diantara kulat atau cendawan yang tumbuh subur pada batang kayu yang telah agak membusuk. Di mata Orang Utan pemandangan yang dilihatnya sangat menarik. Bayangkan seekor Burung Katuging bertengger manis bagaikan seorang puteri diantara hamparan kambang kapuk.2

Orang Utan menghampiri Burung Katuging lalu berkata : “ Banyak benar kulat milik mu “. Disapa demikian, Burung Katuging terkejut, ia tidak menyadari bahwa ia sedang duduk termenung diantara kulat. Lalu Burung Katuging bertanya : “ mana kulatnya ?”. Sambil tersenyum Orang Utan menunjuk kulat yang tumbuh subur disekitar batang pohon tempat Burung Katuging hinggap. Setelah menoleh kekiri dan kekanan, barulah Burung Katuging sadar bahwa ia telah hinggap diantara kulat. Dalam hati Burung Katuging mentertawakan ketololan Orang Utan karena kilat dikatakan kulat. Sepengetahuan Burung Katuging, tumbuhan itu namanya kilat bukan kulat. Lalu berkatalah ia kepada Orang Utan : “ kalau bicara jangan asal celoteh, pakai otakmu, masa iya kilat dikatakan kulat “.Orang Utan tertawa terbahak-bahak menyaksikan ketololan Burung Katuging. Dalam hati ia berkata : “ berani-beraninya bicara mantap dan keras tanpa tahu bahwa apa yang dikatakan salah. Menurut Orang Utan, kilat adalah benda dilangit yang sewaktu-waktu mengeluarkan cahaya. Kulat adalah cendawan. Dengan suara nyaring ia berusaha menyakinkan Burung Katuging bahwa nama tumbuhan itu adalah kulat bukan kilat. Burung Katuging tetap mempertahankan pendapatnya bahwa yang benar adalah apa yang dikatakannya. Perdebatan mulut itu sampai dunia kiamat tak akan pernah berakhir, perlu dewan pakar yang memutuskan kebenarannya. Akhirnya keduanya sepakat mencari jalan keluar dengan menemui para sesepuh. Sebelum berangkat mereka memutuskan bahwa siapa kalah harus dibunuh.
Pertaruhan hidup atau mati yang mereka sepakati, menunjukan sikap mamut menteng atau gagah perkasa, konsekwen, berani tanggung resiko atas segala perbuatan atau keputusan yang telah mereka yakini benar. Mereka tak kenal lempar batu sembunyi tangan, yang artinya berani berbuat atau berjanji, namun tidak berani bertanggung jawab. Merekapun tak kenal istilah cuci tangan yang artinya demi keselamatan dirinya sendiri, lalu menghindar dari masalah yang sedang dihadapi. Keluguan mereka menunjukan ketulusan dan kemurnian hati mereka.

Orang Utan dan Burung Katuging berjalan menuju ke rumah sesepuh hutan. Kebetulan pada saat itu seekor anjinglah yang sedang menjabat sebagai sesepuh para binatang di hutan. Kepada anjing belang yang matanya agak kemerah-merahan mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka. Setelah semua keterangan diberikan, anjing memahami duduk perkaranya. Ia lalu mengundang para sesepuh binatang lainnya untuk turut serta mengadili perkara “ kilat – kulat “.
Setelah para sesepuh berkumpul pada sebuah lapangan, maka sidang dimulai. Duduk perkara dijelaskan langsung oleh yang bersengketa, dalam hal ini Burung Katuging dan Orang Utan. Setelah para sesepuh memahami duduk perkara, Orang Utan dan Burung Katuging diminta meninggalkan tempat karena para sesepuh akan berunding. Dipesankan pula kepada Burung Katuging dan Orang Utan agar pergi tidak terlalu jauh karena setelah keputusan diperoleh, keduanya segera akan dipanggil kembali untuk menghadap. Setelah Burung Katuging dan Orang Utan meninggalkan tempat, mulailah para sesepuh berunding.

Semua sepakat bahwa yang benar adalah apa yang dikatakan Orang Utan. Kilat adalah benda di langit yang sewaktu-waktu bisa bercahaya, sedangkan kulat adalah cendawan. Sesepuh macan dahan 3yang biasanya selalu berbeda pendapat dalam pengadilan, kali ini dengan suaranya yang sedikit parau karena telah dimakan usia, dengan tegas menyetujui bahwa Orang Utan yang benar. Namun entah siapa yang mengawali, pikiran jahat muncul di hati para sesepuh. Anehnya tanpa menerima uang sorok atau uang sogokan, semua menyetujui keputusan yang diputar balikkan. Alasannya sangat tidak masuk akal, yaitu apabila Burung Katuging kalah, dagingnya tidak enak dimakan, tetapi kalau Orang Utan yang kalah, selesai persidangan mereka bisa berpesta pora menikmati daging Orang Utan. Daging Orang Utan terkenal kelezatannya.

Sangat disesalkan, para sesepuh yang seharusnya menjadi panutan justru berbuat cela. Kebenaran telah dikalahkan oleh keserakahan, terbukti Orang Utan yang seharusnya memenangkan perkara justru dipersalahkan demi kesenangan sesaat, hanya demi pesta pora menikmati daging Orang Utan. Setelah sepakat merubah hasil putusan awal yang mengandung kebenaran lalu, Orang Utan dan Burung Katuging dipanggil kembali untuk menghadap di persidangan.

Anjing yang berperan sebagai hakim ketua mengumumkan keputusan pengadilan. Orang Utan dinyatakan kalah. Apa yang telah ia ucapkan ngawur belaka. Begitu putusan sidang diumumkan Burung Katuging dipersilahkan segera meninggalkan sidang dan Orang Utan menerima hukuman mati. Keduanya dengan mamut menteng atau gagah perkasa menerima keputusan pengadilan tanpa menyadari bahwa ketidak beresan telah terjadi dipersidangan. Setelah Burung Katuging meninggalkan sidang, Orang Utan dengan gagah perkasa menyerahkan diri untuk dibunuh bahkan sebagai upah munduk dalam pengadilan, 4dengan ihklas ia menyerahkan dirinya untuk disantap beramai-ramai oleh para hakim yang ia segani.

Sebagai ketua sidang, anjing berhak membunuh Orang Utan. Ketika Orang Utan dibunuh, ia tidak meronta hanya sejenak teringat akan anak dan isterinya yang membuatnya terharu bahkan meneteskan air mata. Hanya dengan sekali terkam, anjing dengan mudahnya membunuh Orang Utan. Kemudian daging Orang Utan dibagikan kepada para hakim yang terlibat dalam memutuskan perkara. Kepala Orang Utan diserahkan kepada anjing karena memang anjinglah yang berhak mengingat ia adalah pemimpin sidang. Kemudian semua pulang kerumah masing-masing dengan ceria sambil membawa daging Orang Utan untuk disantap di rumah masing-masing bersama keluarga.
Sesampai di rumah, anjing memanggil isterinya dan meminta agar merebus dan memasak kepala Orang Utan yang dibawanya. Tanpa bertanya, isteri anjing langsung merebus kepala Orang Utan dalam seruas bambu di dapur. Ketika mendidih terdengar suara : “ Ije sala imbujur, ije bujur inyala “, yang artinya “ Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan “. Suara itu terdengar berulang-ulang diantara suara air mendidih. Suara rintihan yang berulang-ulang itu membuat isteri anjing merinding ketakutan lalu bergegas memanggil suaminya. Ketika anjing yang adalah pimpinan sidang disiang hari tadi datang ke dapur, suara itu terdengar semakin keras, bukan lagi suara rintihan namun menjerit sekeras mungkin. Anjing tersentak, ia tahu apa arti semua ini. Dengan konsekwen dan gagah perkasa didekatinya ruas bambu yang masih terpanggang di atas api tempat merebus kepala Orang Utan. Pelan-pelan diintipnya isi ruas bambu, pada saat yang sama kepala Orang Utan yang mendidih dalam ruas bambu pecah dan otaknya berhamburan tepat mengenai mata anjing. Anjing meronta kesakitan dan berguling-guling dilantai.

Dalam kesakitannya ia menyadari bahwa apa yang ia alami saat itu merupakan hukuman baginya karena ia telah berlaku tidak adil. Sejak saat itu, anjing menjadi buta hingga akhir hayatnya.

Catatan kaki

1 Disebut burung katuging karena bila mengeluarkan suara berbunyi katuging . . katuging
2 Kambang kapuk bahan pembuat kasur alat tidur manusia agar manusia dapat tidur lelap karena empuk dan nyaman.
3 Jenis binatang buas
4 Upah duduk dalam perkara artinya hak yang diperoleh setelah perkara diputuskan

Sumber data : Dongeng anak suku Dayak Kalimantan Tengah.
• Dikisahkan kembali oleh Nila Riwut.
• Pernah di muat di Kalteng Pos.

Minggu, 17 Mei 2009

DARA RUAI BORNEO Part 3

Seorang penjaga itu kemudian duduk bersila dan diikuti oleh yang lain. Lalu penjaga itu berbicara pada Dara Ruai agar besok pagi-pagi sekali Dara Ruai pergi meninggalkan desa untuk mencari penjaganya. Dara ruai bingung tapi terasa damai karena sekarang ia tidak sendiri tapi ia bisa melihat penjaganya itu meskipun orang biasa ridak bisa melihatnya.

Hujan turun semalaman, paginya burung tiung berkicau dan daun-daun bersemi, Dara ruai turun dari tangga rumahnya. Dengan sebuah bungkusan pakaian akhirnya Dara Ruai pergi, ia akan berkelana menuju selatan. Belum beberapa langkah ia berjalan ia kembali menoleh kebelakang, pilu hatinya meninggalkan rumah itu tapi bagaimanapun ia harus pergi ini semua untuk diriku, sukuku dan tanah kelahiranku katanya dalam hati.

Selama dalam perjalanan ia tidak merasa takut karena ia tahu kalu disampingnya ada yang menjaganya. Saat ia sedang bingung kemana ia akan pergi tiba-tiba sekelebat benda hitam datang dari arah depan ia berjalan. Dengan tanpa ampun benda itu mencoba menghantamnya. Belum sempat menghantamnya tiba-tiba datang sekilas cahaya putih menghandam benda hitam itu dan terdengar suara dentum dua benda beradu yang memekakkan telinga. Dara ruai selamat dari bahaya. Belum sempat ia tersadar dengan apa yang dilihatnya sekelebat bayangan putih dari jauh berjalan menujuh arahnya. Tampak seorang laki-laki dengan tubuh penuh tato bermotif dayak. Tato yang memenuhi tubuh laki-laki tersebut bagikan seorang pria memakai batik berukir motif dayak. Setelah lakilaki itu dekat dara ruai barulah dara ruai iangat siapa lakilaki tersebut yang bukan lain adalah ayahnya yang selama ini telah tiada. Belum lama laki-laki itu berdiri kemudian laki-laki itu jatuh tersungkur dan secara gaib hilang.

Dara ruai menagis melihat kepergian ayahnya yang ternyata selama ini adalah pelindungnya yang keenam yang harus ia cari. Kini ia tinggal punya satu harapan lagi untuk mendapatkan penjaganya yang ketujuh. Maka iapun melanjutkan perjalannya menuju sebuah desa yang tidak jauh dari tempat kejadian itu. Sesampai didesa itu ia binggung kemana ia akan tidur malam ini karena ia tidak punya sanak saudara ditempai tersebut dan ia putuskan unhtuk tidur dibalai desa. Dibalai desa itulah ia semalaman tidur dan selama ia tidur kelima penjaganya terus menjaganya.

Embun turun lebat, alam jadi terasa dingin dan membuat Dara ruai terbangun dari tidurnya. Dengan rasa malas yang amat sangat akhirnya ia harus melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanan yang melelahkan itu membuatnya lapar dan haus. Setelah setengah hari berjalan akhirnya ia melewati sebuah sungai. Ditepi sungai ia berdiri dan berniat mencuci muka dan akan beristirahat sejenak. Belum sempat ia mencuci muka seekor ular menghampirinya dan menyerangnya. Dara ruai terkejut dan mengambil sebatang ranting kayu dan memukul ular tersebut sampai mati. Darah ular yang keluar dari tubuh ular tersebut akhirnya mengalir keair. Setelah masuk air secara ajaib mebhentuk ular ular yang baru dan semakin banyak Dara ruai membunuh ular tersebut semakin banyak pula ular-ular itru terbentuk.

Dara ruai tidak bisa berbuat banyak lagi. Selagi ia sedang membunuhi ular kecil tersebut sekelebat bayangan putih terbang diatas air dan menaburkan serbuk putih ketengah-tengah ular terbentuk, ajaibnya semua ular-ular itu menjadi terbakar dan musnah. Disaat ular-ular itu terbakar sesosok bayangan hitan menghantam sibayangan putih hingga terlempar ketepi sungan di tempat dara ruai sedang berdiri. Bayangan hitam masuk dalam air dan kemudian tiba-tiba muncul seekor ular besar dari sungai dan langsung melancarkan serangan pada bayangan purtih. Tanpa kesiapan bayangan putih terkena sabetan ekor ular. Kemudian dengan serangan yang sangat cepat ular besar ,menelan bayangan putih. Lalu urar besar masuk kedalam air meminum air sungai hingga sungai itu menjadi kering. Dalam kebingungannya dararuai tidak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang dilihatnya.

Setelah beberapa waktu akhirnya ular itu memuntahkan air yang sudah diminumnya dan keluarlah sesosok bayangan putih yang sudah tidak bernyawa lagi. Saat itulah Dararuai merasakan perjalananya sudah tidak mungkin dilanjutkan lagi karena penjaganya yang ke tujuh juga sudah tiada dan kelima penjaganya pun akan mati semua. Kembali dara ruai teringat akan pesan nenek kalau ia tidak bisa mendapatkan ketujuh penjaganya makia pada saat umurnya 25 tahun ia akan mati dan untuk selamanya tanah kalimantan tidak akan pernah lepas dari peperangan antar suku. Dara ruai hanya bisa menangis akan semua peristiwa dalam hidupnya. Namun ia tidak pernah menyalahkan Duata’k yang menggariskan hidupnya.

Kini bayangan putih sudah tidak bernyawa lagi keduanya tidak bisa menjaganya dan kekuatan jahat akan berjaya dan ramalan akan terjadi. Dara ruai akhinya pulang kerumahnya, rumah nenek, tempat ibunya dilahirkan dan ia akan menjalani hidupnya sampai suatu ramalan itu terjadi. Tiga hari tga malam perjalan pulang dara ruai kerumahnya diiringi hujan lebat, suara gelegar petir yang membisikan kata-kata kekecewaan akan hari masa mendatang. Angin yang kencang membawa rintik hujan terbang dengan kencang dan bagaikan sejuta panah terus menghantam tubuh dara ruai. Alam menjadi tak bersahabat dan memalingkan wajahnya pada dara ruai yang menjadi harapan kalimantan untuk menghentikan peperangan antar suku.

Sambil berbaring ditempat tidur dara ruai menangisi orang-orang yang selamaini mewngasihinya berjuang untuknya, tapi kini ia tetap sendiri dan pada masanya ia pun akan diakhiri petuangannya dia lam fana ini. Kemudian ia mengambil kotak pemberian nenek dan didalamnya ia tidak mendapati apa-apa lagi semuanya sudah hilang itu tandanya penjaganyapun sudah tidak ada lagi. Dara ruai tahu akan apa yang terjadi nanti dan dengan tersenyum ia berkata duata’k aku siap dan pertemukan aku kembali pada keluargaku, aku berjanji akan menjalani sisa hidup seberguna mungkin bagi orang-orangku suku dayak.

Bulan baru saja akan tenggelam, saat itu umur dararuai genap 25 tahun dan ia sudah menanti akan ramalan hidupnya. Bulan baru separuh tenggelan dan saat itulah bayangan hitam datang dengan hawa yang dingin seisi reiumah dipenuhi warna hitam dan akhirnya rumah nenek tidak terlihat, kini hanya seonggok batu besar meninggalkan cerita. Perjalanan dararuai sudah sampai ia akan kembali pada pangkuan Duata’k dan kekuatan jahat tidak akan penah hilang dalam bumi kalimantan perang antar suku juga akan terjadi dalam waktu yang tidak pernah kita ketahu kapan terjadi.